Senin, 07 Februari 2011

Mereka Juga Manusia

Suatu ketika saat masih bekerja, teman sekantor iseng menuliskan beberapa nama pada secarik kertas. Saya pikir itu daftar nama undangan atau apa karena jumlahnya sekitar belasan, itu pun masih hendak ditambahkan beberapa lagi. Ketika saya tanya itu daftar apa, dijawabnya, “Ini daftar pembantu saya dua bulan terakhir ini, yang gonta ganti terus…”  Kaget dan heran sudah pasti. Tapi melihat ekspresi wajahnya yang lesu tak berdaya saya jadi kasihan padanya. Bagaimana tidak, sebagai seorang ibu bekerja dari pagi (06.30 kami sudah harus berangkat karena jarak ke tempat kerja cukup jauh) hingga petang (18.00 mungkin baru sampai) ini adalah persoalan besar.
Urusan rumah tangga salah satunya adalah mengurus anak, bisa jadi bukan masalah besar seandainya seorang ibu dapat melakukannya sendiri. Tidak sedikit dari mereka jatuh bangun menghadapi persoalan pembantu rumah tangga atau pengasuh anak bahkan babysitter. Meski tidak sedikit pula yang berhasil nyaris tanpa hambatan hingga bertahun-tahun.

Selasa, 01 Februari 2011

YouTube - Mosses-Bryophyte life cycle

Sungguh menyenangkan seandainya dulu saya mengenal biologi dengan cara begini....

YouTube - Ferns-Pteridophyte life cycle


Kalau bukan karena PR Ahnaf, saya mungkin nggak belajar yang begini lagi..Karena apa yang dijelaskan di buku agak sulit dimengerti dengan detil.. Padahal masih kelas 5 SD..


Jumat, 21 Januari 2011

Menanti Ajal


Akhir-akhir ini tempat tinggalku semakin ramai. Mungkin karena cuaca yang tidak menentu. Kadang panas menyengat, kadang hujan deras dan angin. Tak heran di sampingku menjadi tempat favorit banyak orang. Mulai pengendara motor, gerombolan anak-anak sekolah, pemulung bahkan pengemis. Saat panas di sini terasa sejuk, dengan angin segar melambaikan daun-daunku. Siapapun yang singgah di bale-bale bambu di bawahku, mereka akan segera terserang kantuk. Begitupun kala hujan, rimbunnya daun-daunku mengurangi derasnya tetesan air.


Sebenarnya aku tidak sendiri. Di sampingku ada saudara-saudaraku, juga di seberang jalan. Aku senang karena kehadiran kami menambah sejuk dan asri lorong jalan ini. Aku sendiri lupa sudah sejak kapan aku tinggal di sini. Seingatku dulu di sini masih sangat sepi. Mobil masih sangat sedikit, juga motor. Malah lebih banyak pejalan kaki. Mereka adalah petani dan pedagang yang hendak menjual hasil panen ke pasar. Sambil melepas penat mereka beristirahat di dekatku. Menikmati bekal sambil berbincang satu sama lain. Sekarang tempat ini sudah sangat ramai. Mobil lalu lalang semakin banyak menimbulkan kemacetan, motor tak terbilang jumlahnya. Pun penjual makanan berjejer di pinggir jalan.

Senin, 17 Januari 2011

How Embarrassing!

Aku berlari-lari kecil melemaskan kaki. Juga peregangan tangan, kaki dan tubuh. Selalu kuingat pesan pelatihku dulu untuk melakukan pemanasan. Setelah lima menit berlalu aku tak sabar ingin menceburkan diri ke kolam. Sudah lama aku tak berenang. Cuaca masih menyisakan mendung, meski hujan telah berhenti. Namun tak menyurutkan keinginanku merasakan segarnya kolam outdoor ini. Aku sengaja memilih sisi kolam kiri karena jauh di sebelah kanan banyak bule berjemur. Aku merasa tak leluasa berenang bersama mereka.

Beberapa putaran cukup membuatku ngos-ngosan karena dingin dan lelah. Baru sepuluh menit. Tiba-tiba datang beberapa anak bergabung. Ah, lumayan ramai. Namun aku merasa seperti ada yang aneh dengan baju renangku. Kuraba bagian paha kiri, ternyata robek sedikit. Ah, cuek saja. Toh tidak ada yang melihat. Kulanjutkan berenang sambil sesekali meraba ‘robekan’ tadi. Masih aman. Niatku lima menit lagi sudah cukup, aku tak tahan dinginnya. Tiba-tiba ada yang berkibar di bagian bawah tubuhku. Oh no.. baju renangku benar2 robek. Bagaimana ini, kalau ketahuan anak2 di dekatku. Dengan tangan aku berusaha menutupkan robekannya. Kucoba intip ke dalam air. Haah.. ternyata yang robek dari perut sampai lutut. Diam2 aku memarahi baju ini, mengapa tidak awet sih? Dan kenapa harus di sini, saat berenang.


Aku harus menyelesaikannya.. Tanpa sepengetahuan anak2 tadi aku melarikan diri sambil menutup bagian robek meraih handuk di kursi. Kubalut tubuhku dengan handuk, setengah berlari menuju tempat bilas. Alhamdulillah, tapi anak2 itu melihatku dengan heran.. Biarlah. Aku segera berganti pakaian, dan baju renangku kubuang di tempat sampah karena robeknya ‘keterlaluan’. Selamat tinggal baju renangku.


The Dharmawangsa, Jakarta Januari 2011 (semoga tidak terjadi lagi ya Nak!)


Minggu, 16 Januari 2011

Early World of Learning


Rating:★★★★★
Category:Books
Genre: Childrens Books
Author:World Book, Inc
Buku ini berkisah tentang petualangan Poldy, si orang2an sawah bersama tiga ekor burung, gagak (Crow), camar(Seagull) dan murai(Wagtail).

Perkenalan mereka berawal di ladang gandum pak tani. Selanjutnya mereka terbang dan berpetualang ke berbagai tempat. Di tiap tempat yang disinggahi mereka belajar berbagai hal sederhana dan tertuang menjadi beberapa tema diantaranya:

Learn About Colours, Learn About Numbers, Learn About Size, Learn About Shapes, Learn About Sounds, Learn About Places, Learn About Taste and Smell, Learn About Moving Around, Learn About Texture, Learn About Opposites dan Learn About Time.

Kesemuanya ditampilkan dengan gambar dan ilustrasi yang sangat menarik juga dengan bahasa yang sederhana untuk anak2 terutama batita. Sehingga tanpa sadar anak2 seolah mempelajari sesuatu padahal mereka hanya mengikuti jalan cerita.

Satu set buku ini kami peroleh saat mas Ahnaf masih satu tahun (2002). Waktu itu memang belum marak penjualan buku2 jenis ensiklopedi seperti sekarang. Sangat bermanfaat mengasah imajinasi dan komunikasi karena saat dibacakan akan terjadi pembelajaran kosakata baru. Bahkan sampai sekarang adik2nya Idris dan Ilyas juga menyukai. Cover dan kertas yang tebal membuatnya relatif awet.

Saya sangat menganjurkan untuk dibacakan terutama bagi bayi/batita. Entah sekarang buku ini masih dijual atau tidak, sangat sayang kalau sudah punah. Two thumbs!

Rabu, 12 Januari 2011

Adakah Saran Untuk Perpustakaan Kami?

Alhamdulillah, meski baru 8 bulan diluncurkan perpustakaan kami sudah mulai bertambah peminatnya. Sebenarnya bukan disengaja kami ingin membuka perpustakaan untuk umum. Karena semua buku2 kami adalah koleksi pribadi untuk dibaca sendiri. Semakin lama koleksi yang kian bertambah ini rasanya kok sayang kalau hanya untuk ‘dilahap’ sendiri. Alangkah senangnya jika orang lain dapat membaca dan memetik manfaat.

Sebelum resmi dibuka memang sudah banyak peminjam dari kalangan teman2 dekat, saudara dan tetangga. Ternyata sekarang peminatnya mulai bertambah terutama ibu2, anak2 dan remaja bahkan teman yang berada di luar kota. Kadang2 anak2 pemulung yang kehujanan dan mampir berteduh juga ikut membaca2 di perpustakaan kami.