Bahan:
80 gram tepung kacang ijo, dari kacang ijo kupas, disangrai lalu dihaluskan.
20 gram mixed flour (tep.beras:sagu:maizena=6:2:1)
3 telur
60 gram gula pasir
50 ml minyak kelapa
50 gram kacang ijo, rendam semalam, rebus, haluskan
30 gram kelapa parut
Kacang sangrai untuk topping
"Jika umurmu tak sepanjang umur dunia, maka sambunglah dengan pena.."(Pramoedya Ananta Toer)
Selasa, 25 Maret 2014
Minggu, 05 Januari 2014
Soto Ayam Brokoli
Soto ini sebagai hidangan protein hewani. Biasanya pelengkap soto tidak jauh dari soun, kentang goreng, telur rebus, tauge, dll. Untuk menghindari pati, saya ganti brokoli,*) telur saya ganti tofu. Daan, anak-anak suka.. Senengnya..
Kering Kentang Kacang
Kering ini dihidangkan bersama hidangan pati..
Bahan:
- 1 kg kentang, kupas, cuci bersih. Parut kasar dan rendam dalam air garam, selama 15 menit. Goreng hingga kering dan renyah/warnanya kuning keemasan. Remas kentang hingga menjadi remah-remah.
- 250 gram kacang tanah, goreng hingga matang dan renyah.
Bahan:
- 1 kg kentang, kupas, cuci bersih. Parut kasar dan rendam dalam air garam, selama 15 menit. Goreng hingga kering dan renyah/warnanya kuning keemasan. Remas kentang hingga menjadi remah-remah.
- 250 gram kacang tanah, goreng hingga matang dan renyah.
Sayur Terancam
Sayur ini seperti urap mentahan, raw foodnya wong Jowo.. Sebagian besar tidak dimasak, tidak hanya kaya gizi, tapi juga kaya kombinasi zat obat.. Cekidot yah,
-
TEMPE. Berlimpah isoflavon dan lemak sehat
omega-3 yg berkhasiat hipokolesterolemik (menurunkan kolesterol darah) **)
-
MENTIMUN. Banyak mengandung air dan mineral
kalium yg membuat rileks otot dan sel syaraf, sehingga membantu melenturkan
pembuluh darah.**)
Bandeng Presto/Duri Lunak
Bahan:
1 kg bandeng segar, bersihkan isi perut, buang kepala &
ekor, jangan buang sisiknya
2 sdm jeruk nipis
2 sdt garam
Lumuri bandeng yang sudah dibersihkan dengan garam dan jeruk
nipis, diamkan kira-kira 15-30 menit
Kamis, 26 Desember 2013
Antri
Sekitar dua bulan lalu saya belanja di toko swalayan dekat
rumah. Karena belanjaan saya nggak banyak, saya memilih kasir yang melayani
kassa keranjang. Waktu itu masih agak pagi, sekitar setengah sepuluh. Di depan
saya seorang ibu juga sedang mengantri. Ketika ibu itu bersiap menghitung
belanjaannya di kasir, datanglah tiga anak perempuan, masih SD. Terlihat dari
badge di lengan kanannya, rupanya SD Negeri terdekat. Karena badannya agak
gede, saya taksir kalo nggak kelas 5 ya kelas 6.
Mereka ‘hanya’ membeli satu minuman dan satu makanan ringan. Salah seorang dari mereka, (yang badannya paling bongsor) memaksa teman-temannya untuk minta ibu di depan saya, transaksi duluan. “Cuma dikit ini, lagi buru-buru,” katanya. Si Ibu mengalah, mungkin kasihan. Saya pun berpikir kasihan kalau sampai terlambat masuk kelas atau apa. Meski dalam hati kesal, kenapa anak sekolah kok jajannya keluyuran sampai ke sini.
Mereka ‘hanya’ membeli satu minuman dan satu makanan ringan. Salah seorang dari mereka, (yang badannya paling bongsor) memaksa teman-temannya untuk minta ibu di depan saya, transaksi duluan. “Cuma dikit ini, lagi buru-buru,” katanya. Si Ibu mengalah, mungkin kasihan. Saya pun berpikir kasihan kalau sampai terlambat masuk kelas atau apa. Meski dalam hati kesal, kenapa anak sekolah kok jajannya keluyuran sampai ke sini.
Jumat, 06 Desember 2013
CICILAN
Suci baru saja membereskan mainan
anak-anak ketika mendengar deru motor Hari, suaminya. Dilihatnya jam di dinding,
hampir setengah sebelas. Jadwal kerja suaminya sebagai pekerja shift baru
selesai setengah jam yang lalu. Kedua anaknya sudah tidur. Perlahan dia membuka
gorden, mengintip keluar. Ternyata memang suaminya, masih memakai helm.
Dibukanya pintu, “Tumben cepet, Mas. Nggak macet?” sapanya sambil mencium
tangan suaminya.
“Iya, jalanan juga sepi. Mungkin habis
hujan, orang-orang pada males keluar.”
“Oh..” Suci menutup pintu pagar lalu
menguncinya.
“Anak-anak sudah tidur?”
“Sudah, dari jam setengah sepuluh tadi.
Lumayan habis itu bisa beres-beres dulu.” Keduanya masuk dan Suci menyiapkan
teh hangat. “Lauknya mau diangetin nggak?”
“Nggak usah, nasinya kan udah anget.”
Setelah mencuci tangan Hari menghampiri teh lalu menyeruputnya. Belum habis minum,
mata Hari tertuju pada bungkusan plastik di bawah meja TV.
Langganan:
Postingan (Atom)

