Selasa, 16 November 2010

Televisi

Saya tak hendak mengkritik acara TV, atau pun memojokkan produk pertelevisian. Karena saya ingin bercerita tentang pesawat TV di rumah kami. Meski tidak bisa dibilang tua tapi TV ini sudah menemani kami selama hampir sebelas tahun. Tentu tidak dapat lagi bersaing dengan pesawat TV jaman sekarang karena keluaran waktu itu masih kuno dengan model tabungnya yang besar. Meski hanya berukuran 14 inchi bagi kami sudah cukup besar, tentu bukan hanya karena ruangan rumah kami kecil, tapi juga sayang buat apa besar2 kalau ujung2nya membuat mata jadi sakit.
Tak dapat dipungkiri kalau dulu memang TV ini hiburan yang sangat memikat karena sebelum memiliki anak2 kami tidak memiliki banyak bacaan, surat kabar, majalah apalagi buku. Setelah anak pertama kami lahir dan mulai mengerti tontonan kami sering memilihkan film lucu2 seperti Teletubbies yang sangat digemari pada jamannya.

Minggu, 31 Oktober 2010

Pendidikan Dasar (part II)

Seorang teman bercerita tentang anak temannya. Sewaktu kecil mereka tinggal di Australia. Menginjak taraf kelas 3 dia pindah ke Serang di sebuah SD Negeri ternama. Singkat cerita ia langsung masuk ke kelas yang tarafnya sama dengan kelas yang ditinggalkannya di Australia sana. Pada hari pertama masuk si anak dipersilakan memperkenalkan diri. Dengan lihai dan sangat percaya diri ia mulai memperkenalkan diri dan bercerita panjang lebar di depan kelas kepada teman-teman barunya, tentang segala hal selama hampir setengah jam. Tentu dengan pembawaan demikian teman-temannya menganggap ia pasti pintar. Tetapi pada saat memasuki pelajaran, teman2nya terheran-heran karena ternyata si anak baru belajar membaca. Wah.. Bagaimana mungkin. Tetapi memang demikian adanya. Dengan kemampuan seperti itu otomatis ia ketinggalan jauh dari teman2nya yang di kelas 3 SD sudah mempelajari seabrek mata pelajaran. Ujung2nya dia tidak naik kelas. Lalu ia bertanya pada ibunya mengapa ia tidak naik kelas? Ibunya menjawab bahwa memang pelajaran di Australia tidak sama dengan di Indonesia. Stress kah ia? Tidak, malah pada tahun kedua ia mulai menunjukkan kerja kerasnya bahwa ia mampu dan tidak ketinggalan dari teman2nya.

Senin, 25 Oktober 2010

Pendidikan Dasar

Saya sungguh prihatin dengan pendidikan terutama tingkat dasar di negeri ini. Hal ini didasari dengan apa yang selama ini saya amati sendiri terutama bagi anak2 didik yang masih berada di jenjang dasar alias SD. Memprihatinkan sekali karena beban yang harus dipikul seusia mereka sudah terlampau berat. Sekali lagi menurut saya. Padahal di usia mereka masih merupakan usia peralihan yang masih memerlukan stimulasi dari permainan.
Perhatikan saja bagaimana sekarang anak2 TK sudah harus dituntut untuk dapat membaca karena kalau tidak nantinya tidak akan diterima di SD yang notebene saat ini mewajibkan calon muridnya bisa membaca. 

Minggu, 26 September 2010

About Twins (part I)


Bagaimana rasanya punya dan mengasuh anak kembar? Bahagia dan capek itu pasti. Tapi yang utama adalah rasa syukur tak terhingga, karena di antara jutaan perempuan yang ada ternyata Allah hanya mempercayakan pada segelintir saja untuk mengandung dan merawatnya, dan aku termasuk di dalamnya. 
Banyak pengalaman baru dan unik ketika melalui hari2 bersama kembarku Idris dan Ilyas, baik di dalam maupun di luar rumah. Mengikuti pertumbuhan mereka sejak bayi hingga saat ini serasa tak habis2nya, seperti belajar bicara dan mengenal nama satu sama lain. Saat belum saling mengerti, biasanya mereka menyebut nama mereka sendiri dengan nama saudara kembarnya, atau menyebut nama kembarannya dengan nama mereka sendiri. Nah, bingung mungkin. Jangankan mereka, orang dewasa saja kadang2 masih bingung.

Kamis, 16 September 2010

Tugas Kita Adalah Menyuruh Anak Berhenti Membaca



Pada suatu ketika, seorang teman mendapat pencerahan dari penulis dan pembicara kondang M Fauzil Adhim. Begini cuplikannya, "..tugas kita adalah menyuruh anak berhenti membaca.." Saya tak terlalu memahaminya waktu itu, hingga kemudian mengalaminya sendiri.

Senin, 13 September 2010

tour de Kota




Menyusuri Kotatua, mengenang sisa kehidupan tempo dulu. Di sudut kota Jakarta. Bangunan yang masih utuh bekas perjalanan anak bangsa di bawah langit Batavia