Sore
ini mendung masih tersisa meski hujan telah berhenti. Mudah-mudahan sementara
ini hujan tidak turun, karena aku harus ke ATM dulu. Siang tadi Bapak
menelponku kalau dadanya sesak lagi dan obat asmanya habis, sementara uang yang
kukirim dua minggu lalu telah habis untuk berbagai keperluan. Aku maklum, bagi
Bapak uang pesiunan guru tidak lagi cukup untuk makan sebulan. Apalagi membeli
obat-obatan karena beberapa bulan terakhir ini asmanya sering kambuh. Sebenarnya
beberapa kali kuajak Bapak untuk tinggal bersamaku. Tapi dengan halus ia selalu
menolak, memilih tinggal di kota kecil kelahiranku, Jombang. “Jakarta terlalu
ramai buat Bapak yang sudah tua ini, Gus. Biarlah, di sini saja lebih tenang,”
begitu beliau selalu berkata. Sejak Ibu tiada dua tahun lalu, hubunganku dengan
Bapak semakin dekat. Perhatianku semakin tercurah padanya, meski aku tidak bisa
sering menengoknya.